2018

Ruang kerja, 4 Januari 2018. Pukul 02.42 WIB

Ini adalah postingan pertama gue di tahun baru. Ya ya ya, gue tau kalo blog ini — lagi-lagi — nggak keurus dan cuman menghasilkan sedikit entri. Tapi, nulis itu ternyata emang ribet dan sering kali gue kehilangan mood tengah jalan.

2018. Ah blah, lupakan resolusi. Buat gue, merancang resolusi itu bisa dibilang percuma. Karena pada kenyataannya ada banyak distraksi yang akhirnya membuat gue melupakan apa saja resolusi yang pernah gue buat. So I think I need to stop it. It’s not working, for me, for now, at least.

Lantas gimana? Buat sekarang sepertinya gue udah belajar untuk gak menetapkan target yang muluk-muluk. Dari segi kesehatan, gue udah berhasil berhenti merokok lebih dari tiga bulan (that’s something great to celebrate, right?) Dari segi keuangan dan pekerjaan, sampai sekarang gue masih di tempat yang sama, dan gue udah berhasil menabung dalam jumlah yang lumayan lebih dari cukup buat ukuran umur gue.

Sampai sekarang pun proses renovasi rumah terus berjalan walau sambil dicicil-cicil sepanjang tahun, dan berbeda dari waktu dulu, gue gak neko-neko untuk melakukan semuanya sekaligus. I just went with the flow, and voila, sekarang dapur hampir rampung. Impian gue buat punya rumah yang luas gak sumpek karena banyak barang lama gak kepake, sebentar lagi pun terwujud. Nothing goes to waste. Barang-barang lama itu gue daur ulang dan gue kasih fungsi baru.

Kalau diinget-inget lagi, lucu juga sih. Dulu gue termasuk orang yang menatap tinggi ke atas. Ada teman sekantor yang ngecap gue sebagai manusia yang ambisius. Tapi ternyata, nasihat emak gue di kantor dulu ada benarnya. Setelah sekian lama gue menatap ke atas, rasanya lama-lama capek sendiri. Jadi? Ya ikutin aja ke mana arus mengalir. Upaya dan usaha tetep, tapi porsi nrimo-nya lebih diperbesar. Entah gue bisa atau enggak, ya gak tau juga. Namanya baru coba toh?

Yang jelas sebisa mungkin gue mencoba buat nulis. Gue sebel sekarang nulis itu jadi kerasa susah. Padahal dulu ya nulis tinggal nulis aja, tanpa perlu mikir banyak syarat dan ini-itu.

Selamat pagi.

 

Advertisements

Ayo Ngelola Duit – Intro – Karena Kemudahan Hidup Itu Tidak Murah

Ini adalah pengantar dari serial Ayo Ngelola Duit yang iseng gue tulis supaya blog gue gak debuan-debuan amat. Entah nanti ada berapa chapter, karena membuat tulisan yang berurutan dan enak dibaca, apalagi soal pengelolaan keuangan itu nggak gampang cuy! So, stay tuned for more chapters, and yeah, semoga gue tetep betah buat nulisnya dan gak bosen di tengah jalan.


Gue amat sangat menyadari bahwa kemajuan teknologi dan berbagai fasilitas yang memudahkan dan menunjang hidup kita itu tidaklah murah. Ada harga yang harus gue bayar. Kalau gue pengen hidup semakin gampang, semakin besar harga yang gue harus bayar untuk mendapatkan semua fasilitas itu.

Buat gue, kita semua berhak untuk hidup enak dan nyaman dengan segala macam keajaiban teknologi yang ada di zaman sekarang. Dan percaya atau nggak, hidup yang enak dan nyaman itu haruslah diraih dengan kerja keras, dan harga yang tidak murah.

Contohnya begini:

Gue ogah tidur kepanasan. Maka, gue perlu beli AC. Berapa harganya? Untuk AC ukuran 1-PK, kisaran di 3 juta rupiah. Dan gue pun membeli AC merek Samsung dengan seharga sekian, sehingga gue bisa tidur dengan nyaman.

Gue paling anti kerja terhambat. Maka gue harus beli komputer yang high spec, dan cukup buat future proof selama 5 tahun ke depan. Berapa harganya? Untuk laptop high spec yang sesuai keinginan gue, kisaran harganya di 18 juta rupiah. Dan gue pun membeli laptop ROG dengan seharga sekian, sehingga gue pun bisa kerja dengan tenang, tanpa harus takut ngelag, lemot, buka software susah, booting lama, dan seterusnya.

Gue harus lancar internetan, karena kalo internet matot, klien pasti datang menghantui dan memaki-maki. Maka gue harus langganan paket internet yang lebih kencang dibanding paket yang dipakai tetangga rumah sebelah, karena bandwith yang gue pake pasti prioritasnya lebih tinggi. Jadi, gue pun berlangganan paket internet di ISP First Media seharga 700 ribu rupiah per bulannya, plus router Linksys supaya sinyal WiFi mengkover seluruh rumah gue. Sehingga gue bisa menjelajah internet dengan nyaman, download film semau gue, kirim kerjaan tepat waktu, gampang upload file buat kirim ke klien, dan seterusnya.

Gue pengen mendengarkan semua ucapan yang harus gue transkrip dengan jelas. Maka gue pun membeli headphone merek Bose seharga hampir 3 juta supaya suara yang gue dengar itu jernih. Kerjaan pun lancar, kepala tidak capek, kuping nggak panas setelah pemakaian berjam-jam.

Gue wajib memastikan bahwa masa tua gue aman. Maka gue pun mendaftar ke program asuransi dengan membayar premi sekian ratus ribu/sekian juta per bulan sampai tahun ke sekian. Jadi kalau nanti sakit, atau ada hal-hal kemalangan lain, gue gak repot karena sudah ada yang memproteksi. Dan seterusnya dan sebagainya.

NAH!

Dari contoh itu, kelihatannya benar-benar nyaman kan, hidup gue? And yes, itu cuma contoh kecil. Gue belom masuk ke instrumen-instrumen investasi seperti deposito, reksadana, saham, dan lain-lain seperti yang diajarkan mentor-mentor gue di bidang keuangan. Gue pun tahu, ketika membaca beberapa paragraf di atas tadi, mungkin ada orang yang akan menilai gue sebagai seseorang yang sombong sok pamer merek, terlalu mementingkan dunia atau bahkan mendewa-dewakan uang. Tapi, gue nggak peduli. Biar orang mau ngomong apa, sumpeh gue gak peduli. Karena gue tahu, semua orang punya kesempatan yang sama untuk menggapai semua itu.

Caranya, ya dengan ngelola duit.

 

Pekerja Kata Jangan Males Nulis!

Kamis, 8 Juli 2016, 11.30 WIB, Kamar Bude.

Musuh penerjemah/editor/jurnalis/pekerja kata adalah mati ide, mentok, tulisan kaku, alias karatan, karena sudah terlalu sering mengerjakan materi yang sama berulang kali. Itulah yang gue alami sekarang. Seringkali terjemahan/editan gue terasa kaku dan terkadang sangat literal. Beda jauh saat gue masih jadi editor in-house di Elex, ketika gue harus mengurusi beragam naskah dari beragam genre. Ada banyak kosakata baru yang gue peroleh, ada berbagai gaya penulisan yang bisa gue pelajari dari si penulis naskah. Jadi mati ide, karatan, kaku menulis, gak pernah ada sama sekali.

Setelah tiga tahun gue bekerja di tempat yang sekarang, gue merasa kalo karatan ini semakin menjadi-jadi. Hampir setiap hari gue dibombardir oleh materi yang itu lagi itu lagi sifatnya. Kalo nggak teks A, ya teks B, atau Teks C. Udah cuma tiga itu aja. Beda saat gue masih jadi redaksi. Sekarang teks A, nanti siang abis istirahat teks C, menjelang sore sambil menunggu macet reda di kawasan Slipi-Semanggi-Pancoran-Kalimalang, gue garap teks G. Pokoknya macam-macam.

Gue sering berdiskusi soal ini sama sahabat yang juga berprofesi sebagai penerjemah, dan kami sepakat bahwa biar nggak karatan, maka menulislah. Ya, sampeyan nggak salah baca kok. Menulislah. Tapi dalam arti, menulis yang bagus. Bukan sekadar menulis tulisan yang serampangan yang nggak jelas maksudnya apa. Kenapa menulis yang bagus? Karena menulis yang bagus itu memaksa kita untuk terbiasa mengungkapkan isi pikiran dalam untaian kalimat yang jelas. Menulis yang bagus, memaksa kita untuk terbiasa berpikir runut. Karena kalimat yang tidak runut, biasanya sulit terbaca maksudnya, dan orang juga malas membacanya karena susunannya yang acak adut. 

Pendapat serupa juga dilontarkan oleh guru saya, Pak Ersis Warmansyah Abbas (EWA). “Menulislah. Karena menulis itu membantu meluruskan kerut-kerut pikiran.” Hanya saja, pendekatan yang beliau ambil lebih ekstrem lagi. Menurut beliau, “Menulis, tak usah repot. Yang penting tulis saja dulu, daripada nggak jadi-jadi menulisnya, terlalu banyak pertimbangan.” Ya, saya rasa itu yang membuat beliau aktif dan produktif sekali menulis buku. Entah sudah berapa puluh buku yang beliau tulis dan jilid sendiri. Dedikasinya terhadap dunia tulis-menulis itulah yang membuat saya menaruh hormat pada beliau.

Gue rasa masih ada banyak pekerja kata lain yang jarang menulis. Ya mereka setiap hari memang “menulis”, dalam arti mengolah naskah atau mengolah dokumen hingga layak baca. Tapi, buat menuangkan isi pikirannya sendiri dalam bentuk tulisan, gue rasa masih banyak yang males atau setengah-setengah. *Ya gue sendiri juga begitu sih… Hehehe.

Memang harus gue akui kalau menulis itu gampang-gampang susah. Apalagi kalau orangnya gak punya dasar menulis apa-apa dan nggak biasa jadi seorang pencerita. Tapi gue rasa cara ini lumayan ampuh buat gue. Otak gue terasa lebih ringan kalau udah nulis. Kenapa? Karena motif setiap gue menulis adalah buat curhat. Yap. Gue menggunakan metode itu karena ‘curhat’ membuat gue lebih gampang menuangkan kata-kata. Anggap aja media blog di layar ini adalah spons yang bakal menyerap setiap kata-kata lo. Curhat juga membuat gue masuk dalam mode ‘pencerita’.

Jadi intinya ya gue nyerocos aja di blog ini. Kebetulan, tulisan gue kali ini diinspirasi oleh hasil terjemahan yang kaku dan literalnya nggak karu-karuan. Makanya gue bahas topik itu, seperti yang gue tulis di kalimat pembuka. Nah, kalau udah selesai curhatnya, gue baca lagi deh tuh tulisannya. Tentu yang gue publikasikan di blog ya tulisan yang layak baca kayak yang lagi you baca sekarang. Supaya jelas maksud tulisannya apa. Nah kalau untuk pos kali ini, maksudnya adalah: jadi pekerja kata jangan males nulis! 

Kalau yang jelek ya — kayak nulis curhat gak jelas, misuh-misuh, marah-marah, dll. dst. dsb. — ya cukup buat jadi konsumsi pribadi aja. :p 

Gue Kangen Kerja di Penerbit…

Senin, 20 Juni 2016, 01.00 WIB, Kamar Bude

Masih sambil dengerin lagunya Kodaline yang gue tulis di postingan sebelumnya, tiba-tiba gue ngerasa kangen kerja di redaksi penerbit.

Buat gue yang gak suka dandan perlente macam pegawai bank — yang kudu pake lengan panjang, dasi, celana bahan, plus sepatu pantofel warna hitam, kerja sebagai editor buku di penerbit itu surga banget. Gue ke kantor bisa pake baju santai (kaos, atau kemeja biasa, yang penting rapi), dan celana jeans, dan sepatu kets.

Sumpah surga banget kan dandanan kayak gitu? :v :v

Tapi, yang jelas, yang bikin gue kangen kerja di penerbit adalah komunikasi dan interpersonal skill yang gue dapet ketika bekerja. Ditambah lagi ribuan ilmu baru yang gue dapetin dari buku yang gue baca dan gue edit setiap harinya.

Kerja di penerbit sekelas grup Kompas Gramedia itu, gue bisa punya akses ke mana-mana. Mulai dari CEO berbagai perusahaan yang jadi klien, redaktur dan jurnalis senior, sampai main bareng temen-temen wartawan ke berbagai tempat. Mulai dari warung remang-remang, sampai ke Balaikota dan Istana Negara. Pengalaman itulah yang gak bisa gue nilai dengan uang.

Yah, emang kedengerannya idealis sih. Tapi itu yang gue kangenin sekarang, setelah 3 tahun freelance kerja di rumah yang hanya keluar kalo mati lampu dan modem internet bermasalah.

Puasa dan Tiba-tiba Galau…

Senin, 20 Juni 2016. 12.30 WIB, Kamar Bude

Halo, blog. Maaf gue baru bisa nulis lagi. Sebenernya ada banyak hal yang mau gue tulisin di sini, tapi entah kenapa tiba-tiba pas udah login malah gue jadi males dan rasanya mending nonton video YouTube. Sekali lagi maaf ya kalau gue bikin lo jadi bulukan begini… *bersihin sarang laba-laba*

Anyway, seperti biasa juga, gue lagi galau gara-gara dengerin lagunya Kodaline yang judulnya “All I want”. Entahlah, tapi yang jelas gue emang selalu galau kalo denger lagu itu.

 

All I Want”

All I want is nothing more
To hear you knocking at my door
‘Cause if I could see your face once more
I could die a happy man I’m sureWhen you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

But if you loved me
Why’d you leave me?
Take my body
Take my body
All I want is,
And all I need is
To find somebody.
I’ll find somebody like you.

Oh oh

So you brought out the best of me,
A part of me I’ve never seen.
You took my soul and wiped it clean.
Our love was made for movie screens.

But if you loved me
Why’d you leave me?
Take my body,
Take my body.
All I want is,
And all I need is
To find somebody.
I’ll find somebody.

Oh

If you loved me
Why’d you leave me?
Take my body,
Take my body.
All I want is,
And all I need is
To find somebody.
I’ll find somebody like you.

Oh

 

Anyway lagi, Dhana hari ini ulang tahun. All the best for you deh ya bro.

3 Januari 2016 – 12.00 WIB

Sisa liburan tinggal 12 jam lagi. Besok udah tanggal 4 Januari dan semua orang pun mulai beraktivitas, pergi ke kantor, dan macet pun datang kembali. Fiuh. Untung gue kerja di rumah. :D Tapi ya tetep aja… masih pengen liburan… T_T

Kalo liburan itu biang macetnya pada ke luar kota semua, Jakarta jadi kosong. Kalau gue mau ke suatu tempat yang biasanya perlu waktu tempuh selama 1,5 jam, pas liburan kemaren cuman butuh 20 menit. Asyik banget kan? T_T

1 Januari 2016 – 3.12 WIB

Tiga jam dan tiga belas menit berlalu dari awal mula tahun baru. Belom tidur gara-gara keasyikan nonton The Martian yang baru gue download dari Torrent. Ceritanya mirip-mirip Gravity sih, tentang survival di luar angkasa. Gue baru download karena waktu itu gak sempet nonton ke bioskop gara-gara banyak kerjaan.

But still, sampe gue nulis entri blog ini, gue gak ada rasa ngantuk sedikit pun. Lingkungan sekitar udah pada tenang lagi, yang tadi dar der dor kembang api dan petasan pun udah sunyi senyap. Entahlah, mungkin mereka kekenyangan sama ayam, daging, dan jagung bakar yang sengaja mereka siapkan buat menyambut tahun baru. Niat amat… padahal dari tahun ke tahun ya paling ujung-ujungnya stagnan. Resolusi kiri kanan, padahal resolusi taun lalu juga gagal total. Tapi mbuhlah, bukan urusan gue ini.

Resolutions? Meh… that’s fake and most of them are fucking bullshit.