Trisha’s Lullaby

Lagi suka dengerin lagu ini… itu saja.
Advertisements

If I’m going to die, I’d like to actually live first.

Mungkin ini kedengarannya egois, tapi gue pengen menikmati hidup. Ya, gue pengen memaksimalkan hidup. Waktu hanya datang satu kali. Jangan sia-siakan waktu. Jangan sia-siakan kesempatan. Bijaklah dalam membuat pilihan hidup. I’ve created my bucket list. The list that I am going to fulfill before I kick the bucket. Here’s mine — well, some of it, at least:

  • Ngurusin badan
    • Sumpah ini berat. Seberat badan gue. Target gue tahun depan harus bisa terlaksana.
  • Pensiun lebih awal
    • Yup, gue gak mau selamanya jadi penerjemah. Kalau memungkinkan, gue ingin pensiun di umur 40 atau 45.
  • Punya passive income dari berbagai instrumen investasi
    • Ini pelan-pelan sedang gue wujudkan. Saat ini gue sedang belajar banyak hal tentang investasi dan seiring waktu gue akan terus menambah porsi investasi gue supaya dapet return yang maksimal. Yang penting, gue udah memulainya, dan mulai menghasilkan. — tenang, ini gue gak lagi jualan MLM kok. ;-)
  • Belajar bahasa baru
    • Sejauh ini ada beberapa bahasa yang gue pahami baik secara aktif maupun pasif: bahasa Indonesia (aktif/penutur asli), Jawa (pasif/kasual), Padang (pasif), bahasa Sunda (pasif/kasual), bahasa Inggris (aktif/profesional). Mungkin, gue mau belajar bahasa China buat rencana jangka panjang.
  • Belajar fotografi dan jadi fotografer profesional
    • Bulan Juli kalo gak ada halangan semoga gue udah punya kamera DSLR buat modal belajar. Udah cari info juga buat les fotografi (termasuk nyiapin dana buat belajar sama Oom Darwis). Bakal mahal, tapi uang bisa dicari.
  • Belajar jadi perencana keuangan
    • Gue suka uang (who doesn’t, right? LOL). Gue suka ngelihat uang itu tumbuh seperti pohon yang lama-lama makin rindang. Lantas kenapa gue gak seriusin aja? Walau gue belom kepikiran buat ambil sertifikasi, tapi gue udah riset apa-apa aja yang perlu gue lakukan, termasuk ambil kursus atau workshop sama Mas Aidil Akbar. Ini juga bakal mahal, tapi sekali lagi, uang bisa dicari.
  • Pergi keliling Indonesia sambil hunting foto
    • Yes, gue gak mau daerah main gue cuma seputar Jakarta-Bandung-Yogya-Solo-Malang-Surabaya-Bali. Gue pengen pergi ke Raja Ampat atau festival Baliem buat liat balapan babi.
  • Pergi keluar negeri sambil hunting foto
    • London? Kyoto? Edinburgh? Seoul? NYC? Wina? Belgia? NZ?
  • Skydiving?
    • Kalo ini, gue harus kurus dulu.
  • Menetap di daerah yang tenang dan berbiaya hidup murah
    • Gue pengen menghabiskan masa tua gue bersantai sambil sesekali minum bir di tempat yang tenang, dingin, dan nyaman.

Yak, itu cuma beberapa item dari bucket list gue yang saat ini udah lumayan semakin panjang. I really hope I can do them all before I finally kick the bucket.

Gue dan Messiah Complex…

Kebetulan lagi dapet mood buat nulis sesuatu yang agak serius ketimbang ngasih entri harian karena lagi puasa medsos. Hahaha. Tapi ya emang gue harus akuin sih kalo gue kepikiran nulis ini karena gue juga puasa medsos. Makin sini gue makin menyadari bahwa gue terlalu menghabiskan banyak waktu dan jadi gak produktif sama sekali. Medsos itu adiktif dan sering ngebuat gue berprasangka buruk sama orang. Padahal, ketika gue gak dapet info ter-update tentang politik, atau tentang temen-temen sekitar, ya gak bikin gue mati juga.

So, anyway, gue mau bahas tentang Messiah Complex (atau dalam bahasa Indonesia-nya, sindrom juru selamat). Gue gak mau kasih penjelasan panjang lebar apa arti dari istilah tersebut, karena lo bisa baca sendiri di Wikipedia — tapi artikelnya dalam bahasa Inggris ya.

Gue mau cerita (atau mungkin lebih tepatnya, mengakui) bahwa ada kemungkinan besar gue mengalami gangguan psikologis ini. Kenapa? Karena saat gue punya kesempatan buat berpikir atau merenung (pas kayak saat gue puasa medsos ini), ketika gue kilas balik lagi apa yang gue udah lakukan selama beberapa tahun ke belakang, sering kali yang jadi fokus utama dalam kehidupan gue adalah kehidupan orang lain.

Misalnya, ketika gue punya inner circle yang sedang kesusahan (baik itu sahabat atau keluarga, ya pokoknya yang gue anggap worthy buat gue masukin ke inner circle gue deh), kadang gue berpikir “Gimana ya keadaannya dia? Gue bisa bantu apa? Apa dia lagi baik-baik aja?” dan bahkan cenderung lebay, kayak “Njir, gue bisa dengan mudah melenyapkan semua masalah yang dia alamin, I have that power. Yang dia perlukan hanya minta, dan gue akan mengabulkan semuanya. Gue bisa lakukan itu. I will do everything in my power to help them, all they have to do, is ask!

Sampai sini, apa gue udah keliatan kayak Tony Stark?

Lantas yang jadi pertanyaan berikutnya, kenapa gue sampe bisa menyimpulkan bahwa gue terkena masalah psikologis ini? Menurut gue, faktor terbesarnya adalah karena gue anak tertua dalam keluarga, dan gue jadi tulang punggung keluarga. Dan gue dididik dari kecil buat gak enakan sama orang. Sehingga ngebuat gue gak bisa berkata “nggak” sama orang. Terlebih lagi karena orangtua gue wafat ketika gue masih usia yang sangat muda (kuliah) dan gue harus melewati itu semua dengan memikul tanggung jawab lebih dari orang-orang biasa. Dan jujur aja, ketika gue memutuskan untuk membantu, dan yang gue bantu itu mau menerima, gue merasa senang luar biasa. Mungkin bisa dibilang candu? Karena gue mulai mencari lebih dan lebih.

Bener aja, makin ke sini, pelan tapi pasti, gue merasa kosong kalau gue gak bantuin orang. Apa pun bentuknya, mulai dari jadi tempat curhat, ngasih saran *yang waktu itu gue yakin betul* bisa membuat segala kesulitan inner circle gue terpecahkan, bahkan sampai ke urusan finansial. Gue gak peduli, yang penting gue bisa bantuin menyelesaikan masalahnya, dan gue senang. Gue dapet gratifikasi dari itu. Persis kayak orang kecanduan minum wine manis? Gue rasa begitu.

Tanpa sadar, gue pun berkubang menikmati candu semu. Gue habiskan rentang usia 20-an gue buat menjadi seorang juru selamat, bagi orang-orang yang (mungkin) belum tentu segitu pedulinya sama gue. Tapi ya lagi-lagi gue gak peduli. Gue senang, it made me feel better. Bahkan, rasa sayang gue ke mereka bisa dibilang tanpa syarat, platonik. I love you, I’m happy if you’re happy.

Naif, ya? Ya itulah gue ketika di umur 20-an.

Memasuki usia 30-an, pengalaman gue dalam membina inner circle pun semakin banyak, dan akhirnya gue mencapai titik balik. Pada akhirnya gue menyadari bahwa gue lebih berhak untuk bahagia. Segala kenaifan gue terbayar dengan kondisi gue yang bak kolam kosong. Tanpa ada setetes pun air, karena semua gue udah berikan buat orang lain.

Ketika gue menyadari bahwa kondisi gue seperti kolam kosong, perlahan gue merasa sedikit depresi. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa gak semua inner circle gue menjunjung nilai yang sama kayak gue dalam membina hubungan (baik itu sahabat, maupun keluarga) dan pada akhirnya membuat gue kecewa amat sangat. Sakit? Oh iya dong. Banget. Jujur gue perlu waktu agak lama buat recover. Tapi selama proses recovery itu gue selalu menanamkan ke diri gue bahwa: gue berhak untuk lebih bahagia. Gue gak berkewajiban buat menyelesaikan semua permasalahan orang-orang terdekat. Dan gue cuma manusia biasa. Gue harus membahagiakan diri sendiri dulu baru gue bisa membahagiakan orang lain tanpa mengorbankan diri jadi kolam kosong.

Ketika gue berhasil menguasai keadaan, gue merasa kayak jin Aladdin yang terbebas dari lampu ajaib. Mencintai dan menyayangi diri sendiri itu rasanya menyenangkan. Gue gak dipusingkan lagi dengan urusan orang dan bisa berpikir lebih jernih buat menyaring lagi inner circle gue dengan lebih baik. Orang-orang yang menjunjung nilai yang sama kayak yang gue anut, loyal dan setia sama gue seperti gue loyal dan setia sama mereka, tanpa harus khawatir bahwa gue akan ditikam dari belakang.

Nah, gue yakin bahwa gue gak sendirian. Gue pun sangat yakin ada banyak orang yang mengalami gangguan psikologis ini, tapi mereka seringnya denial, gak mau menerima bahwa mereka kena messiah complex (atau malu buat mengakuinya). Biasanya orang yang menderita gangguan ini sedang dalam kondisi puncak hidupnya. Punya banyak teman, punya banyak uang, dan pengakuan sosial sebagai “orang baik” membuat kuota batin langsung penuh dalam waktu singkat. Tapi… percaya deh. Pada akhirnya lo akan capek. Ketika lo mencapai titik balik, pada akhirnya lo akan menyadari bahwa gak semuanya pantas buat diperjuangkan mati-matian.

Lantas gimana dong cara mengatasinya? Ya seperti yang udah gue bilang di atas. People come and go. Mulailah dengan menyadari bahwa lo lebih berhak buat bahagia. Bahwa lo harus mencintai diri lo sendiri dulu. Stop your denial, accept it. Embrace it. But the problem is, would you be brave enough to do it?

Tabik.

Social Media Detox – Day 16 – Happy Eid!

Ok ok, I opened my Instagram just now, but relax, I just wanted to say hi and wish Happy Eid to everyone there. and to reply some DMs explaining that I’m on detox. No biggy, right? Hehehe. So anyway, the social media detox has given a tremendous effect to my self-health and I just want to keep going and going, to see how long I can do this.

Several things came to mind yesterday. One of it was me planning to be a certified financial planner. LOL. But more on that later. I got some works to do.

Social Media Detox – Day 15

Ok, so this has been the longest social media detox that I’ve ever had in my entire life. Like I said in my previous post, being disconnected from social media is liberating. Like, extremely liberating. I started gaining momentum to increase my focus, to further learning all things about investments (be it stocks, mutual fund, etc.) and the most important thing is: I can use my time to think.

I’m turning 31 this year. And when I really think about it though, it made me realize that there are things that I haven’t done yet, like to exercise more to get in shape and healthy, to study photography, and then become a professional photographer — hint: I might ended up buying a DSLR camera for my birthday at the end of July. Canon EOS 7D, perhaps? AND a new Garmin watch, and a new pair of running shoes, LOL. Or to double my assets and portfolio just in five years — so I can retire happily at 35 or 40 — can I get an AMEN?

I also have decided not to be bothered with meaningless friendship dramas. I should have known that people come and go. Time will tell, and eventually I will know which ones worthy to be kept close in my inner circle. And yeah, it sucks, but I’ve got to move on.

Social Media Detox – Day 12

Udah 12 hari tanpa sosial media. Rasanya, membebaskan. Walaupun belom bikin gue amat sangat produktif karena udah hampir 2 minggu ini sakit flu. Oh, hari Rabu kemarin (berarti hari ke-10 ya?). Gue kebetulan lagi kosong kerjaan, jadi… gue mampir ke Epicentrum deh siang-siang buat nonton Godzilla King of the Monsters.

Verdict? Awesome Gojira is awesome! Terus gimana dengan hidup gue? Alhamdulillah baik-baik aja. Gue juga membatasi diri dari berita-berita politik yang sampah itu. Gue udah gak mau ambil pusinglah, lebih baik fokus buat benahin diri sama kerja biar semakin kaya.

Gue pikir, begitu coba lepas dari sosmed itu bakal susah. Ternyata enggak kok… Pas lah sama lagu ini…

Waking up feeling the taste of our fight last night
Breaking up, making a mess of an all good life
And now that you’re gone I’m thinking ’bout old times
I’ve waited so long For this to be over

Now that I’m free from all the chains
you’ve kept me in, I’ll be ok
Now that I’ve found the only way
to get myself home again, I’ll be ok

Moving on, seeing it all in a whole new light
Thinking of reasons to make it, I’ll be alright
And now that you’re gone I’m thinking ’bout old times
I’ve waited so long For this to be over

Now that I’m free from all the chains
you’ve kept me in, I’ll be ok
Now that I’ve found the only way
to get myself home again, I’ll be ok

I’m biding my time
It’s my time to shine through
I’ve made up my mind
I’m waiting to find you

Now that I’m free from all the chains
you’ve kept me in, I’ll be ok
Now that I’ve found the only way
to get myself home again, I’ll be ok
I let you know I’ll be alright

Now that I’ve found the only way
to get myself home again, I’ll be ok